Sabtu, 29 Desember 2018

PENGALAMAN JADI GURU LES

Bismillah

Seperti biasa di penghujung tahun ajaran aku merasa kesepian, maklum jadwal mengajarku semakin sedikit, paling hanya satu dua kelas setiap minggunya, maklum mereka sudah selesai UNBK dan sebagian dari mereka sudah selesai ujian kenaikan kelas. 


Sudah dua tahun aku menduduki profesi ini sebagai tutor di bimbingan belajar dan juga homeschooling. Mulanya aku hanya iseng mencoba profesi ini tetapi dengan profesi inilah atas izin Allah bisa menghidupiku selama 2 tahun. Memasuki profesi ini tentu penuh sejarah, sejarah itu bermula selepas aku sidang skripsi, iseng-iseng aku bertanya kepada kawanku yang mengajar di sebuah bimbingan belajar, aku bertanya apakah ada lowongan atau tidak, temanku menjawab bahwa bimbingan belajar tersebut buka terus lowongannya setiap saat. Temanku memberikan kontak nomor handphone pemiliki bimbingan belajar, akhirnya aku SMS pemiliknya dan menawarkan diri untuk menjadi tutor Matematika dan IPA. Panggilan test pun masuk, singkat cerita aku mengikuti test dengan segera. Ketika awal masuk ke lokasi aku bertemu dengan FO, aku perkenalkan namaku dan akan mengikuti test, FO menawarkan mau jadi guru apa, aku jawab MTK dan IPA, kemudian FO menawarkan lagi kalau bahasa Inggris bagaimana ? Aku menjawab nanti aja aku minatnya MTK dan IPA. Test MTK dan IPA pun diberikan, dari sekian soal hanya sedikit yang bisa kujawab, akhirnya aku berganti sebaiknya aku menjadi tutor bahasa Inggris, aku minta juga soal bahasa Inggris dan aku lancar mengerjakannya, padahal jujur aku lupa semua soal bahasa Inggris. Singkat cerita aku lolos tes dan resmi mengajar pada hari minggu berikutnya. 

Aku yang belum pernah mengajar bingung memulai mengajar, satu minggu dua minggu masih kaku dan garing, protes dari murid pun berdatangan, akhirnya dalam hatiku aku mau pindah ke bimbingan belajar lainnya yang lebih terkenal dan menggajiku dengan gaji lebih besar. Aku mendaftar sebagai tutor dibimbingan belajar tersebut dan hasilnya aku tidak lolos, kecewa, tentunya karena katanya gaji per sesi di bimbingan belajar itu mencapai Rp100 000, sangat jauh dengan tempat mengajarku. Teringat aku merenung dengan diam di jumat sore, mengapa begini banget nasibku, protes dari murid iya, sesi mengajar sedikit hanya sekitar 4-5 kali perminggu, aku merenung dan membaca surat al-Kahfi karena hari itu hari Jumat, kemudian setelah membaca surat al-Kahfi aku bertawasul supaya aku diberikan rezeki. Entah mengapa setelah aku bertawasul tiba-tiba aku membuka modul bimbingan belajar, aku mulai belajar materi bahasa Inggris dasar, aku mulai belajar tenses dan sebagainya. Akhirnya pada malam hari aku ke kelas dan bertemu dengan mereka yang protes kepadaku, aku mulai mengajarkan sesuai apa yang kubaca, reaksi mereka sungguh berbeda, mereka mulai menunjukkan ketertarikan dengan caraku, mulai dari situlah aku mendapatkan ilmu cara mengajar yang baik menurutku. Aku terapkan ke berbagai kelas dan akhirnya sesi mengajar bertambah, yang awalnya hanya 4 kali menjadi 7 kali seminggu bahkan hingga 9 kali seminggu dan di akhir semester 1 bisa mencapai 11 kali per minggunya. 

Semester 1 usai mulai masuk di semester 2, jadwalku masih 11 sesi per minggu, setiap hari aku berangkat, rupanya Allah terus menurunkan rezeki kepadaku, jadwalku ditambah menjadi 13 kali per minggu sehingga hari Sabtu aku harus berangkat, aku katakan tidak masalah karena kuyakin rezekiku halal, in sha Allah. Hingga-hingga aku pernah mengajar 17 sesi per minggu. Aku merasa senang dan bahagia dengan ini semua karena pendapatanku  hampir setara dengan teman-teman yang bekerja keras banting tulang nglaju Bogor-Jakarta, aku hanya pergi dari rumah ke tempat les, ini semua atas izin Allah. 

Karirku dalam mengajar tidak cukup hanya di satu tempat, aku mencoba untuk berkarir di Homeschooling. Seperti biasa aku mengirim surat lamaran dan cv kemudian menghadapi test dan akhirnya diterima. Sejujurnya saat test aku tidak mengerti apa-apa, pertanyaan tentang keguruan dan metode mengajar tidak bisa kujawab dengan benar,saat wawancara pun aku tidak mengerti metode terbaik di homeschooling, apalagi saat microteaching aku harus menjelaskan materi memakai bahasa Inggris, sungguh jauh di luar apa yang kuprediksikan. Seusai tes aku hanya bisa berdoa semoga Allah memudahkanku untuk mengajar di Homeschooling. Ternyata eh ternyata Allah mengabulkan permintaanku, Allah mengizinkan aku untuk mengajar di Homeschooling, saat akad aku diberitahu bahwa homeschooling begini dan begitu, menariknya lagi saat aku diberitahu bahwa bayaran ngajar di Homeschooling cukup tinggi, sebesar Rp100 000 per sesi, aku bangga dan salah tingkah saat itu, aku yang dulu pernah ditolak di bimbingan belajar ternama yang menggaji sebesar Rp100 000 per sesi kini bisa mendapatkan dengan hasil yang sama tapi tempatnya saja yang berbeda. Aku yakin bahwa rezeki yang Allah tetapkan pasti akan Allah turunkan, hanya saja tempat dan waktunya yang hanya Allah saja yang tahu. Mengajar di dua tempat tidak serasa beban bagiku, meskipun aku harus mengorbankan sebagian waktu pagiku untuk mengajar di Homeschooling. 

Mengajar di bimbingan belajar dengan murid dari sekolah formal dan Homeschooling dari sekolah non formal tentu memiliki perbedaan, beratnya materi harus disesuaikan bukan disamakan. Mereka yang sekolah formal menjadikan sekolah (kurikuler) sebagai utamanya dan ekstrakulikuler sebagai sampingannya, tetapi berbeda dengan homeschooling yang malah sebaliknya sehingga perlu kesabaran ketika mengajarkan mereka. 

Memang kujalani semua hidupku ini dengan berkecimpung di dunia pendidikan, padahal aku lulusan Kehutanan, aku tahu banyak teman yang mengajakku untuk kembali bekerja di kehutanan, tapi aku mengatakan belum dulu dan nanti saja. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah aku akan terus mengajar ? Aku jawab in sha Allah hanya saja tempat dan waktunya yang berbeda, aku targetkan setelah aku lulus dari Magister aku akan menjadi dosen baik di PTN maupun PTS, aku akan mengajar sesuai kemampuanku dan sesuai apa yang mereka minta. Dunia pendidikan dan pengajaran memang mengasyikkan karena di dunia inilah kita bisa menyelematkan puluhan bahkan ratusan generasi. Apabila ada satu murid saja yang menjai soleh kemudian bisa menurunkan generasi yang soleh maka pahala terus mengalir. 

Akhir kata aku ucapkan aku sangat berbangga dengan kondisiku saat ini, aku akan terus menjadi seperti apa yang aku inginkan tanpa harus menyeleweng dari apa yang Allah dan rasulNya perintahkan.

Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar