Banyak yang kerja tapi gak ngerasa kerja padahal rekeningnya masih gendut-gendut aja, padahal pula masih bisa mencicipi makanan bahkan makanan terenak dari seantero jaga warung makan. Penyesalan tak terkira semakin bertambah ketika melihat teman-temannya yang sudah duduk manis di kantor atau duduk bebas di lapang, yang tentu terkait dengan instansi yang bergengsi. Apalagi kalau ada temannya yang bertanya, " Sekarang sibuk dimana ?", seolah ingin membuang muka.
Memang mencari nafkah itu kewajiban bagi setiap laki-laki muslim, tapi kewajiban pun ada aturannya. Contohnya shalat wajib, bolehkah kita shalat wajib lebih dari 17 rakaat dalam sehari ? Begitu juga bekerja. Jangan sampai bekerja menjadikan dunia sebagai prioritas utama, lebih dari jam kerja yang seharusnya bahkan meninggalkan aturan Allah dan rasulNya khususnya dalam perintah yang wajib seperti berakidah yang lurus dan shalat. Bekerja pun mengandung banyak pahala asal kerjaanya halal dan dilakukan dengan ikhlas, dengan bekerja maka in sya Allah kita mendapatkan pahala menjaga kehormatan diri, bersabar, bersyukur, bersedekah dan sebagainya. Bahkan dikatakan oleh ulama salaf bahwa salah satu aktivitas yang terus mengalir pahalanya adalah bekerja, jadi selama kita bekerja dengan ikhlas dan di atas jalan yang halal maka pahala pun terus mengalir.
Tetapi ada sebuah definisi yang saya pribadi kurang setuju yaitu seorang disebut bekerja harus bekerja di atas 35 jam dalam seminggu kalau tidak maka dikatakan setengah menganggur. Definisi ini tidak berlaku hanya di Indonesia melainkan di seluruh antero negeri. Lalu bagaimana dengan Imam Masjidil Haram ? Apakah beliau termasuk posisi PENGANGGURAN ? Ok kalau dilihat dari waktu misal shalat shubuh, ya shalat shubuh misal dilaksanakan selama 20 menit, kemudian dilanjutkan dengan mengisi kajian selama lebih dari 1 jam, berarti beliau berada dalam instansi Masjidil Haram selama 1.5 jam per hari, kemudian coba dikalikan dengan 7 hari maka dalam seminggu beliau bekerja hanya 10.5 jam saja ? Lalu apakah kita katakan beliau menganggur ? Atau apabila di antara kita kelak jadi Imam Masjidil Haram kita menyesal dan berkatA DUH MALU GUA BELUM KERJA NI ADA KERJAAN GA ? Ini sebagai sebuah ilustrasi saja. Saya yakin Imam Masjidil Haram memiliki pekerjaan lain di instansi-instansi Saudi Arabia, insya Allah.
Lalu apa definisi nganggur ? Menurut saya pribadi nganggur adalah gak bekerja sama sekali serta gak ada upaya untuk mencari nafkah. Saya katakan "MENCARI NAFKAH" bukan "MENCARI KERJAAN" karena mencari nafkah bisa dilakukan dengan banyak cara, bisa dengan dagang, bisnis online, jadi motivator instagram dan twitter, penulis blog, buku, freelancer, kerja kantoran, dan sebagainya. Sehingga apabila ada seseorang yang BERDAGANG DAN BERBISNIS apa pun jenis bisnisnya meskipun hanya menjual pulpen maka dia disebut orang yang bekerja. Maka itu dia berhak mengubah status pekerjaan di FB nya dengan tulisan "WIRAUSAHA".
Saya yakin definisi saya tidak salah karena begitulah yang digunakan di E-KTP, buktinya orang yang gak kerja kantoran bisa ditulis Wiraswasta kan ? Lalu apa yang harus disesali dengan nasib yang ada . Memang kita perlu pekerjaan tetap untuk keberlangsungan masa depan, tetapi bukan berarti kita meninggalkan total apa yang sudah kita kerjakan selama ini. Jangan sampai hanya gara-gara stress belum punya pekerjaan tetap di perusahaan atau instansi bergengsi kita menjadi tidak produktif, hari-hari dipenuhi dengan termenung dan ngurusin karier orang lain. Jadi pesan saya sebagai orang kupret dan mantan agent of phone credit semasa kuliah di saat para mahasiswa menjadi agents of change adalah : Syukuri apa yang sudah Anda jalani, kembangkan, siapa tahu Anda bisa menjadi triliuner dengan rutinitas yang mungkin Anda anggap remeh dan gak prospektif. Sungguh Allah memberi rezeki kepada siapa Yang Dikehendaki, maka itu carilah rezeki supaya kita termasuk kateogri Yang Dikehendaki olehNya.
Akhir kata mari kita doakan pemimpin kita semoga Allah merahmatinya, mencintainya dan menjadikan negeri ini menjadi negeri yang sakinah mawhdah wa rahmah, dan juga mari kita doakan semoga Raja Salman terus menerus mengurus dua tempat sakral yaitu Masjidil Haram dan Nabawi serta sultan Erdogan yang terus menerus menggencat sekulerisme , mudahkan jalan mereka ya Allah.
Allaahua'lam bis shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar