Karbon merupakan salah satu elemen penting di planet bumi memiliki
siklus. Siklus karbon berisi proses pelepasan karbon menjadi karbondioksida dan
penyerapan karbon yang mengurai karbon dioksida menjadi karbon dan oksigen.
Karbon yang telah diurai tersimpan di dalam bumi dan tidak berinteraksi dengan
oksigen sehingga karbon yang tersimpan tersebut disebut sebagai cadangan karbon.
Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Kaufman dan Donato (2012) bahwa
cadangan karbon merupakan kandungan karbon yang tersimpan pada:
(a)
permukaan tanah, yang terdiri dari biomassa tanaman, nekromasa tanaman (sisa
tanaman yang sudah mati);
(b) dalam tanah, yang merupakan bahan organik tanah.
Secara lebih lengkap, Hairiah et al. (2011) mengemukakan bahwa pada
ekosistem terestrial, cadangan karbon disimpan dalam 3 bagian penting yaitu :
a. Bagian hidup (biomassa) merupakan massa dari akar, batang, ranting dan
tajuk pohon yang masih hidup, tumbuhan bawah atau gulma dan tanaman
semusim.
b. Bagian mati (nekromassa) merupakan massa dari bagian pohon yang telah
mati, yang meliputi tonggak, ranting dan daun-daun gugur (seresah) yang
belum terlapuk, tunggul pohon, kayu tumbang yang berada di permukaan
tanah,
c. Tanah (bahan organik tanah) didefinisikan sebagai bagian makhluk hidup
yang telah melapuk sebagian atau seluruhnya yang merupakan bagian
pembentuk tanah. Makhluk hidup dapat berasal dari tanaman, hewan, dan
manusia, Bahan organik yang terbentuk mempunyai ukuran partikel kurang
dari 2 mm.
Ketiga bagian (komponen) karbon di atas, berdasarkan keberadaannya di
lingkungan, dapat dikelompokkan menjadi:
1. Karbon di atas permukaan tanah, meliputi:
a. Biomassa pohon. Biomassa ini mempunya proporsi cadangan karbon
terbesar di ekosistem terestrial, terdapat pada vegetasi dengan habitus
pohon. Penggunaan persamaan allometrik dengan memasukkan data
diameter dan tinggi hasil pengukuran, dapat mengestimasi biomassa sebuah
pohon. Metode ini digunakan untuk mengurangi kerusakan pohon.
b. Biomassa tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah terdiri dari rumput-rumputan,
gulma, tumbuhan menjalar, atau semak belukar yang berdiameter batang
<5 cm. Pendugaan biomassa tumbuhan bawah dilaksanakan secara
destruktif yaitu dengan mengambil bagian tanaman, sehingga
menyebabkan kerusakan tumbuhan.
c. Nekromasa. Bagian ini terdiri dari batang pohon mati, baik yang masih
berdiri maupun yang telah telah tumbang dan tergeletak di permukaan tanah.
Nekromasa merupakan komponen penting dari karbon, sehingga
dipertimbangkan dalam estimasi cadangan karbon secara akurat.
d. Serasah. Komponen ini merupakan bagian tanaman yang telah gugur
berupa daun dan ranting-ranting yang berada di atas permukaan tanah.
2. Karbon di dalam tanah meliputi:
a. Biomassa akar. Karbon dapat ditransfer oleh akar langsung ke dalam tanah
dengan waktu yang cukup lama. Biomassa akar tanah hutan didominasi oleh
akar-akar berukuran besar dengan diameter lebih dari 2 mm. Pada lahan
pertanian, didominasi oleh akar-akar halus dengan siklus hidup yang lebih
pendek.
Estimasi biomassa dapat didasarkan diameter akar utama, seperti
menduga biomassa batang yang didasarkan pada diameter batang.
b. Bahan organik tanah. Bahan organik ini berasal dari sisa tanaman, hewan
dan manusia yang sebagian atau seluruhnya, telah didekomposisi oleh
mikroorganisme sehingga menyatu dengan tanah. Kebaradaan bahan
organik bisa di atas maupujn di dalam tanah.
Cadangan karbon memiliki kuantitas yang berbeda-beda pada setiap tipe
penggunaan lahan (Lippe et al. 2017; Rittl et al. 2017; Kumar et al. 2010; Puhlick
et al. 2017; Dayamba et al. 2016), hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
(a) faktor vegetasi, meliputi jenis, jumlah, kerapatan pohon, dan (b) faktor
lingkungan, yang memengaruhi proses fotosintesis dan pertumbuhan, yaitu kadar
air, kesuburan, suhu, dan penyinaran matahari. Hal ini terbukti yaitu cadangan
karbon pada hutan sekunder memiliki cadangan karbon 37.28 tonC/ha, hutan
mangrove 51.86 tonC/ha, hutan rawa 38.77 tonC/ha, agroforestri 36.84 tonC/ha, dan
perkebunan kelapa sawit 0.10 tonC/ha (Sugirahayu dan Rusdiana 2011). Hal serupa
juga dinyatakan oleh Balitbang Kehutanan (2010) bahwa cadangan karbon pada
hutan lindung sebesar 211.86 tonC/ha, hutan alam dipterokarp 204.92 – 264.70
tonC/ha, hutan sekunder bekas kebakaran hutan 7.5-55.3 tonC/ha, hutan tanaman
Acacia mangium sebesar 91.2 tonC/ha, hutan tanaman Switenia macrophylla
sebesar 64.1 – 166.6 tonC/ha.
Cadangan karbon pada hutan tanaman dan perkebunan dapat diperkirakan
berdasarkan kelas umurnya seperti perkebunan kelapa sawit. Yulianto (2015) dalam
penelitiannya di PT Daria Dharma Pratama Plantation Bengkulu Indonesia
menyatakan bahwa kelapa sawit umur 0-5 tahun sebesar 6.98 tonC/ha, 6-10 tahun
sebesar 34.16 tonC/ha, 11-15 tahun sebesar 69.32 tonC/ha, 16-20 tahun sebesar
51.74 tonC/ha dan di atas 20 tahun sebesar 34.91 tonC/ha. Perbedaan cadangan
karbon pada kelas umur kelapa sawit disebabkan oleh perbedaan tinggi dan
diameter kelapa sawit, semakin tua kelas umur sawit maka akan semakin tinggi
cadangan karbonnya karena semakin bertambahnya tinggi dan diameter kelapa
sawit. Pertambahan diameter tanaman memengaruhi cadangan karbon, semakin
besar diamater semakin besar juga cadangan karbonnya (Khasanah et al. 2015).
Namun hasil penelitian Yulianto (2015) mengemukakan hal yang berbeda, pada
umur 16 tahun ke atas cadangan karbon sawit mengalami penurunan, hal ini
disebabkan adanya pangkal pelepah yang jatuh sehingga mengurangi diameter
batang, tentu hal ini berdampak pada cadangan karbon kelapa sawit. Selain kelas
umur, cadangan karbon kelapa sawit dipengaruhi juga oleh jenis tanahnya, pada
kelapa sawit yang ditanam di tanah mineral memiliki cadangan karbon sebesar
40.03 tonC/ha dan di tanah gambut memiliki cadangan karbon sebesar 37.76
tonC/ha (Khasanah et al. 2015).
Lebih lengkap silakan download di https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95389
Tidak ada komentar:
Posting Komentar