Jumat, 29 November 2019

Cadangan Karbon

 Karbon merupakan salah satu elemen penting di planet bumi memiliki siklus. Siklus karbon berisi proses pelepasan karbon menjadi karbondioksida dan penyerapan karbon yang mengurai karbon dioksida menjadi karbon dan oksigen. Karbon yang telah diurai tersimpan di dalam bumi dan tidak berinteraksi dengan oksigen sehingga karbon yang tersimpan tersebut disebut sebagai cadangan karbon. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Kaufman dan Donato (2012) bahwa cadangan karbon merupakan kandungan karbon yang tersimpan pada:


(a) permukaan tanah, yang terdiri dari biomassa tanaman, nekromasa tanaman (sisa tanaman yang sudah mati);

 (b) dalam tanah, yang merupakan bahan organik tanah.

Secara lebih lengkap, Hairiah et al. (2011) mengemukakan bahwa pada ekosistem terestrial, cadangan karbon disimpan dalam 3 bagian penting yaitu : a. Bagian hidup (biomassa) merupakan massa dari akar, batang, ranting dan tajuk pohon yang masih hidup, tumbuhan bawah atau gulma dan tanaman semusim. b. Bagian mati (nekromassa) merupakan massa dari bagian pohon yang telah mati, yang meliputi tonggak, ranting dan daun-daun gugur (seresah) yang belum terlapuk, tunggul pohon, kayu tumbang yang berada di permukaan tanah, c. Tanah (bahan organik tanah) didefinisikan sebagai bagian makhluk hidup yang telah melapuk sebagian atau seluruhnya yang merupakan bagian pembentuk tanah. Makhluk hidup dapat berasal dari tanaman, hewan, dan manusia, Bahan organik yang terbentuk mempunyai ukuran partikel kurang dari 2 mm.

Ketiga bagian (komponen) karbon di atas, berdasarkan keberadaannya di lingkungan, dapat dikelompokkan menjadi:

1. Karbon di atas permukaan tanah, meliputi: a. Biomassa pohon. Biomassa ini mempunya proporsi cadangan karbon terbesar di ekosistem terestrial, terdapat pada vegetasi dengan habitus pohon. Penggunaan persamaan allometrik dengan memasukkan data diameter dan tinggi hasil pengukuran, dapat mengestimasi biomassa sebuah pohon. Metode ini digunakan untuk mengurangi kerusakan pohon. b. Biomassa tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah terdiri dari rumput-rumputan, gulma, tumbuhan menjalar, atau semak belukar yang berdiameter batang <5 cm. Pendugaan biomassa tumbuhan bawah dilaksanakan secara destruktif yaitu dengan mengambil bagian tanaman, sehingga menyebabkan kerusakan tumbuhan. c. Nekromasa. Bagian ini terdiri dari batang pohon mati, baik yang masih berdiri maupun yang telah telah tumbang dan tergeletak di permukaan tanah. Nekromasa merupakan komponen penting dari karbon, sehingga dipertimbangkan dalam estimasi cadangan karbon secara akurat. d. Serasah. Komponen ini merupakan bagian tanaman yang telah gugur berupa daun dan ranting-ranting yang berada di atas permukaan tanah.

2. Karbon di dalam tanah meliputi: a. Biomassa akar. Karbon dapat ditransfer oleh akar langsung ke dalam tanah dengan waktu yang cukup lama. Biomassa akar tanah hutan didominasi oleh akar-akar berukuran besar dengan diameter lebih dari 2 mm. Pada lahan pertanian, didominasi oleh akar-akar halus dengan siklus hidup yang lebih pendek.

 Estimasi biomassa dapat didasarkan diameter akar utama, seperti menduga biomassa batang yang didasarkan pada diameter batang. b. Bahan organik tanah. Bahan organik ini berasal dari sisa tanaman, hewan dan manusia yang sebagian atau seluruhnya, telah didekomposisi oleh mikroorganisme sehingga menyatu dengan tanah. Kebaradaan bahan organik bisa di atas maupujn di dalam tanah. Cadangan karbon memiliki kuantitas yang berbeda-beda pada setiap tipe penggunaan lahan (Lippe et al. 2017; Rittl et al. 2017; Kumar et al. 2010; Puhlick et al. 2017; Dayamba et al. 2016), hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: (a) faktor vegetasi, meliputi jenis, jumlah, kerapatan pohon, dan (b) faktor lingkungan, yang memengaruhi proses fotosintesis dan pertumbuhan, yaitu kadar air, kesuburan, suhu, dan penyinaran matahari. Hal ini terbukti yaitu cadangan karbon pada hutan sekunder memiliki cadangan karbon 37.28 tonC/ha, hutan mangrove 51.86 tonC/ha, hutan rawa 38.77 tonC/ha, agroforestri 36.84 tonC/ha, dan perkebunan kelapa sawit 0.10 tonC/ha (Sugirahayu dan Rusdiana 2011). Hal serupa juga dinyatakan oleh Balitbang Kehutanan (2010) bahwa cadangan karbon pada hutan lindung sebesar 211.86 tonC/ha, hutan alam dipterokarp 204.92 – 264.70 tonC/ha, hutan sekunder bekas kebakaran hutan 7.5-55.3 tonC/ha, hutan tanaman Acacia mangium sebesar 91.2 tonC/ha, hutan tanaman Switenia macrophylla sebesar 64.1 – 166.6 tonC/ha. Cadangan karbon pada hutan tanaman dan perkebunan dapat diperkirakan berdasarkan kelas umurnya seperti perkebunan kelapa sawit. Yulianto (2015) dalam penelitiannya di PT Daria Dharma Pratama Plantation Bengkulu Indonesia menyatakan bahwa kelapa sawit umur 0-5 tahun sebesar 6.98 tonC/ha, 6-10 tahun sebesar 34.16 tonC/ha, 11-15 tahun sebesar 69.32 tonC/ha, 16-20 tahun sebesar 51.74 tonC/ha dan di atas 20 tahun sebesar 34.91 tonC/ha. Perbedaan cadangan karbon pada kelas umur kelapa sawit disebabkan oleh perbedaan tinggi dan diameter kelapa sawit, semakin tua kelas umur sawit maka akan semakin tinggi cadangan karbonnya karena semakin bertambahnya tinggi dan diameter kelapa sawit. Pertambahan diameter tanaman memengaruhi cadangan karbon, semakin besar diamater semakin besar juga cadangan karbonnya (Khasanah et al. 2015). Namun hasil penelitian Yulianto (2015) mengemukakan hal yang berbeda, pada umur 16 tahun ke atas cadangan karbon sawit mengalami penurunan, hal ini disebabkan adanya pangkal pelepah yang jatuh sehingga mengurangi diameter batang, tentu hal ini berdampak pada cadangan karbon kelapa sawit. Selain kelas umur, cadangan karbon kelapa sawit dipengaruhi juga oleh jenis tanahnya, pada kelapa sawit yang ditanam di tanah mineral memiliki cadangan karbon sebesar 40.03 tonC/ha dan di tanah gambut memiliki cadangan karbon sebesar 37.76 tonC/ha (Khasanah et al. 2015).

Lebih lengkap silakan download di https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95389

Tidak ada komentar:

Posting Komentar