Bismillah
Guru, sebuah profesi "mulia" dan kadang disebut "pahlawan tanpa tanda jasa". Guru yang bertugas untuk mencerdaskan anak bangsa tidak selamanya mengalami kemulusan dalam karirnya, banyak tantangannya, mulai dari murid yang susah diatur, orangtua murid yang mudah "complain" hingga gaji bulanan.
Gaji bulanan seorang guru bisa dibilang tidak besar apalagi statusnya guru honorer. Saya tidak tahu pastinya berada, ada yang mengatakan sesuai UMR, tapi ada juga yang mengatakan gajinya di bawah gaji bulanan pembantu yang mana pembantu rerata gajinya Rp700 ribu. Begitu juga dengan guru dengan status guru swasta, ada yang hanya plonga plongo melihat kemewahan kendaraan orangtua murid lalu lalang di parkiran sekolah, dituntut kerja dengan waktu yang sama dengan waktu kerja karyawan dan kadang ada larangan untuk nyambi jadi guru bimbel atau privat.
Memang profesi "mulia" tidak cukup hanya diucapan kata melainkan juga "mulia" dari segi ketercukupan harta. Bukan bermaksud materialisme namun kenyataan yang dihadapi memang begitu adanya. Lalu bagaimanakah seorang guru bisa meraup harta di luar profesi "mulia" nya ?. Beginilah caranya :
1. Wirausaha. Manfaatkanlah waktu sisa bekerja, waktu liburan akhir pekan dan waktu liburan semester yang panjang untuk mengembangkan usaha. Banyak usaha yang bisa dijalankan nantinya tanpa harus mengganggu waktu kerja utama sebagai guru seperti menjadi marketer produk, menjadi penjual pulsa/paket data, menjadi freelancer bisnis jasa untuk pekerjaan-pekerjaan tertenu misal penerjemah, pemetaan, desain grafis dan sebagainya.
2. Kerja part-time di luar kerja utama. Kerja part-time ini contohnya menjadi tukang ojek online, menjadi guru privat/bimbel (kalau diizinkan), menjadi pemateri training keahlian tertentu pada suatu lembaga. Menjadi tukang ojek online bisa dilakukan saat weekend dan atau liburan sekolah. Pendapatannya memang tidak pasti namun menurut penuturan tukang ojek online yang saya temui sehari bisa dapat Rp500 ribu, bayangkan kalau tiap weekend seperti ini maka sebulan sudah mendapatkan lebih dari gaji pokok. Begitu juga menjadi guru privat, untuk kelas olimpiade saja bisa Rp300 ribu satu sesinya, bagaimana kalau seminggu mengajar 5 sesi ? , begitu pula menjadi trainer, satu hari mengajar bisa mencapai Rp700 ribu bahkan ada yang dibayar Rp4 juta per harinya bergantung jam terbang.
3. Manfaatkalan status guru untuk bermain tender. Memang terlihat nyeleneh tapi apabila diizinkan oleh lembaga tentu tidak masalah.Kadang ada "funding" dari luar negeri mau memberikan proyek sekian ribu bahkan ratus ribu dollar untuk pendidikan, apabila goal biasanya Anda akan memperoleh benefit sebesar 10-30 % dari total project. Misal Anda goal project sebesar USD 5000, maka Anda berhak mendapatkan mulai dari USD 500 - USD 1500, itu contohnya. Tentu tergantung pada analisis biaya yang Anda buat.
Kadang saat guru nekat menjalankan salah satu dari tiga opsi di atas atau bahkan ketiga-tiganya muncul nyinyiran misal : " kalau ada sampingan seperti di atas nanti guru gak fokus ngajar" atau "ya sudahlah kalau jadi guru nikmati saja gak usah cari-cari yang lain kasian anak murid" atau yang semacamnya. Nyinyinaran tersebut ada benarnya apabila memang menjalankan profesi tambahan saat jam kerja, misal saat ngajar dan murid ngerjain tugas guru sibuk bermain HP untuk promosi barang atau saat ada tugas dari sekolah yang memerlukan perjalanan dinas guru tidak amanah yaitu memanfaatkan waktu senggang di perjalanannya untuk menarik penumpang ojek online. Tapi nyinyiran tersebut akan jadi berlebihan saat guru sudah selesai mengajar, tidak ada tanggung jawab apa-apa dan tidak ada ikatan tugas.
Akhir kata apabila Anda menjadi guru dan sudah merasa cukup dengan gaji yang diberikan silakan saja namun apabila Anda menjadi guru dan masih merasa sulit dengan gaji yang ada maka carilah nafkah sampingan yang bisa membuat Anda cukup. Ingatlah bahwa ulama-ulama terdahulu mereka tidak hanya mengajar saja melainkan mereka juga mencari nafkah dengan bekerja pada orang ataupun berdagang (bisnis).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar