Sabtu, 29 Desember 2018

KHAWATIR REMAJA JADI SOLEH

Bismillah
Ketika remaja laki-laki sudah mulai rajin shalat di masjid, ditambah lagi shalat sunnahnya, ditambah lagi sering hadir di pengajian, ditambah lagi pemahaman ilmunya semakin mendalam, ditambah lagi dengan berubahnya penampilan, mulailah ada kekhawatiran pada sebagian orangtua. Mereka khwatir anaknya ikut aliran sesat. Kekhawatiran itu bukan hanya terjadi pada remaja laki-laki melainkan juga pada remaja wanita.


Kekhawatiran tersebut saya duga disebabkan oleh isu miring tentang radikalisme dan terorisme. Image yang digambarkan dalam isu miring tersebut bahwa ciri-ciri anak yang terkena dampak radikal adalah seperti yang disebutkan di paragraf awal. Seolah-olah mereka yang keluar dari mulutnya hanya perkataan yang berasal dari alQuran, asSunnah dan pemahaman sahabat adalah GARIS RADIKAL, mereka yang berpenampilan syari termasuk GARIS TERORIS dan sebagainya.Kekhawatiran bahwa mereka kelak akan meledakkan bom, meneror orang dan membunuh ORANGTUANYA.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi isu miring ini sudah lama berhembus , saya ingat ketika awal masuk kuliah tahun 2011, pihak KORAN KAMPUS memberitakan bahwa 70 % mahasiswa baru dikhawatirkan akan ikut organisasi N** yang katanya radikal. Sejenak kini saya berpikir darimana mereka mendapatkan data 70%, apakah mereka sudah survei ? Dan nyatanya selama saya menjadi mahasiswa baru di tingkat pertama tidak saya temukan sedikitpun mahasiswa yang masuk ke organisasi N** . Semua hanya isu tidak ada bukti.

Isu miring tersebut telah memakan korban, kabar-kabar saya dengar mulai dari dibantingnya radio oleh orang tua salah seorang siswa SMA gara-gara menyetel radio R**** hingga diusirnya mahasiswi yang kekeuh menggunakan cadar oleh pihak asrama di salah satu universitas .Mereka yang kekeuh mau mengamalkan ajaran Nabi serasa hidup dalam keadaan serba salah, ketika mereka meninggalkannya maka apa kata Allah nanti serta image negatif dari teman-teman sepergaulannya kemudian namun ketika mereka kekeuh menjalankannya maka senjata batin yang menusuk semakin meracun.

Memang terorisme yang ada  dilakukan oleh beberapa remaja lebih lagi dari remaja yang katanya beragama Islam, tetapi sudahkah ada penelitian lebih lanjut tentang perbandingan remaja Islam yang menjadi teroris dan tidak menjadi teroris. Apabila yang melakukan terorisme itu hanya sebatas PENCILAN mengapa diperbesar dan seperti majas totem pro parte ?

Menjadi remaja yang soleh dan taat kepada Allah merupakan keutamaan yang sangat besar yaitu akan dinaungi dalam naunganNya saat di hari kiamat kelak sebagaimana oleh Bukhari di nomor 660 dan Muslim di nomor 1031 sebagaimana berikut :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Maka itu sudah sepantasnya kita berbangga melihat remaja yang rajin beribdah kepada Allah, rajin mengamalkan perintahNya dan kekeuh meninggalkan laranganNya. Janganlah kita termakan isu radikalisme karena isu tersebut dibuat untuk menjauhkan remaja dari jalan Allah. Akhir kata saya ucapkan Allaahua'lam bisshawab





Tidak ada komentar:

Posting Komentar