Jumat, 29 November 2019

Kenapa Gak Kerja Kantoran ?

Bismillah

"Lha kamu yang serius dong, sayang IPK mu, tukeran dengan IPK ku lah...", begitulah kawanku berkata padaku saat aku akan mengikuti tes guru bimbel di tahun 2015, tahun dimana aku lulus S1 dari salah satu PTN di Indonesia. Maksud kawanku itu adalah kenapa aku gak kerja kantoran atau di perusahaan yang besar tapi lebih memilih menjadi guru BIMBEL.


Hingga kini pun aktivitasku sama, bukan guru bimbel sih tapi guru homeschooling.Aku bekerja maksimal 6 jam per hari minimal 2 jam per hari berangkat pagi jam 8, pulang paling lambat jam 15, tapi di sela-sela itu aku pulang ke rumah, maklum rumahku dengan homeschooling ini tidak terlalu jauh, hanya berjarak 1 km saja.

Semua orang pastinya bingung memandangku kecuali satu, iaitu adikku. Kenapa bingung ? Karena aku yang sekarang sudah lulus S2 dari PTN di Indonesia tidak kerja kantoran.

Lalu kenapa gak kerja kantoran ?

Jawabannya adalah karena aku punya kantor sendiri

Maksudnya ?

Iya, ngajar di HOMESCHOOLING itu cuman untuk MONEY LAUNDRY saja, khawatir kalau aku cerita yang sesungguhnya orang-orang malah pada ngutang kepadaku.

Jadi setelah aku ngajar di HOMESCHOOLING biasanya aku menghabiskan waktu untuk kerja di kantor pribadiku, kantor yang membuka beberapa jasa seperti :

1. Jasa Penerjemah
2. Jasa Olah Data Statistik
3. Jasa Pembuatan Peta dan WebMap
4. Jasa Pelatihan
5. Jasa Jurnal Scopus

dan sebagainya..


Memang sih suka ada yang menyindirku untuk KERJA KANTORAN, aku gak tahu maksudnya, mungkin supaya aku dapat GAJI TETAP sehingga masa depanku bisa lebih baik, tapi hatiku mengatakan TIDAK. Aku melihat fenomena KERJA KANTORAN yang hatiku gak bisa nerima itu, misal adanya bos yang BOSSY, revisian gak jelas, buang-buang waktu di perjalanan, nongkrong-nongkrong yang menghabiskan uang dengan rekan kerja, traktiran di saat hari ultah atau saat kenaikan pangkat, atau aturan-aturan bodoh yang tidak jelas seperti harus memendekkan jenggot atau mencukur habis jenggot, celana tidak boleh cungkring atau harus berjabat tangan dengan yang bukan mahrom dan sebagainya...

Intinya itu persepsiku dan itu hadir dari KETIDAKNORMALANKU dalam berpikir. Lalu apakah aku akan terus begini ? IYA KALAU MEMANG AKU BISA KAYA DENGAN BEGINI KENAPA HARUS KUTINGGALKAN  daripada KELIHATAN GAYA TAPI KERE, malas lah...Kalau Anda tidak sepakat ya silakan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar