Rabu, 21 Oktober 2020

PENGALAMAN TERKENA TINITUS

Ngiiing......ssst.... ssst.... tessss..... 

Begitulah yang terdengar di telinga penderita tinitus. Suara tersebut kadang mengecil kadang membesar. Suara semakin besar apabila berada di tengah kesunyian. 

Tinitus menurut Halodoc adalah bunyi atau dengungan pada telinga. Kondisi ini sebetulnya bukan penyakit, melainkan gejala dari penyakit tertentu. Tinitus disebabkan oleh beberapa hal antara lain : 


-Kerusakan pada telinga bagian dalam. Ini merupakan penyebab dari sebagian besar tinnitus. Pada kondisi normal, bunyi yang masuk ke telinga akan dikirim ke otak oleh saraf-saraf pendengaran setelah sebelumnya melewati struktur yang mengandung sel-sel sensitif bunyi. Struktur ini disebut sebagai koklea. Namun, jika terjadi kerusakan pada koklea, proses pengiriman sinyal akan terputus dan otak akan terus mencari sinyal-sinyal dari koklea yang tersisa sehingga menyebabkan bunyi tinnitus.


-Kehilangan pendengaran karena lanjut usia. Kepekaan saraf pendengaran akan berkurang seiring bertambahnya usia sehingga kualitas pendengaran kita akan menurun.


-Pajanan suara atau bunyi yang nyaring, contohnya mendengar musik yang terlalu nyaring melalui earphone, pekerja pabrik yang menangani mesin-mesin berat, atau mendengar bunyi ledakan yang keras.


-Penumpukan kotoran dalam telinga. Ini akan menghalangi pendengaran dan bisa memicu iritasi pada gendang telinga.


-Infeksi pada telinga tengah.


-Pertumbuhan tulang telinga yang abnormal.


-Penyakit Meniere.


-Cedera kepala atau leher.


-Efek samping obat-obatan tertentu.


-Hipertiroidisme.


-Pecahnya gendang telinga.


-Neuroma akustik.


-Gangguan kardiovaskular, misalnya hipertensi atau aterosklerosis


Saya pernah mengalami tinitus dan terjadi beberapa kali. Kadang hanya sebentar di malam hari, pernah juga hampir seharian, dan yang paling parah adalah saat ini, sudah seminggu lebih terkena tinitus meski sekarang sudah reda meski belum 100%, mungkin sekitar 5-10%. Semoga saja yang 5-10% segera Allah angkat. 


Tinitus parah ini bermula pada hari Sabtu tanggal 10 Oktober 2020. Ketika itu di malam hari kebetulan kondisi hujan deras, tiba-tiba telinga kanan saya terdengar seperti bunyi mendesis, lambat laun bunyi tersebut semakin keras. Saya mencoba menenangkan diri, mungkin hanya perasaan saja atau hanya efek dari suara hujan. Setelah hujan reda bunyi masih ada, akhirnya saya meyakini bahwa itu adalah Tinitus, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah. Alhasil perasaan saya semakin khawatir karena semakin berlangsung lama, 1 jam, 2 jam, bahkan sampai saya tidur malam dan terbangun di tengah malam masih terdengar. Saya pikir jangan-jangan sama seperti kejadian Maret 2020 lalu, tinitus hampir seharian. 


Akibat tinitus yang semakin keras saya tidak bisa tidur pagi setelah shubuh di tanggal 11 Oktober 2020, saya berdoa saja semoga Allah segera angkat dan saya yakin bahwa malamnya akan sembuh karena pengalaman lalu menunjukkan bahwa tinitus saya tidak sampai 24 jam. Malam datang, namun tinitus masih ada bahkan semakin keras, saya semakin stress dan sulit tidur, kalau tidak salah saya berbaring pukul 22.00 WIB dan baru bisa tidur sekitar pukul 01.00 WIB. Begitu pula dengan hari esoknya saya malah semakin tidak bisa tidur. Dua hari tidak bisa tidur, penyakit saya tidak hanya tinitus melainkan juga insomnia. Saya paksakan tidur dan akhirnya bisa tidur juga. Saya kira dua hari sudah membaik, namun di hari ketiga masih saja mendengar suara mendesis. 


Saya tidak tinggal diam, saya cari beberapa literatur terkait tinitus. Menurut salah satu penuturan seorang pakar yang berbicara di TEDx bahwa tidak ada cara penyembuhan tinitus (there is no cure for Tinitus), lalu saya pun melihat beberapa terapi untuk Tinitus di youtube, itu saya lakukan dan tidak berhasil. Saya semakin bingung dan stress apalagi membaca penuturan dari penderita tinitus, katanya ada yang sudah sampai hitungan tahun, bahkan ada yang belasan tahun, bahkan parahnya ada yang sampai 3/4 masa hidupnya dipenuhi dengan tinitus. 


Hari-hari saya terus dipenuhi tinitus dan puncaknya adalah di hari Jumat 16 Oktober 2020, ketika saya tidur siang tinitus saya semakin keras, kemungkinan disebabkan oleh suara mesin gerinda untuk memotong besi, kebetulan ada pembangunan masjid di dekat rumah saya. 


Tintius yang semakin parah mengingatkan saya dan hal-hal ini menurut pengalamn saya bisa meredakan tinitus. Hal ini antara lain:


1. Doa yang dibaca setiap Dzikir pagi/sore yang berbunyi :

ALLAHUMMA ‘AFINI FII BADANII, ALLAHUMMA ‘AFINI FII SAM’II, ALLAHUMMA ‘AFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, berikanlah kesehatan buat badanku, buat pendengaran dan penglihatanku, tiada sembahan yang berhak disembah selain Engkau) ALLAHUMMA INNII A’UDZU BIKA MINAL KUFRI WAL FAQRI, ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MIN ‘ADZABIL QABRI, LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari kekufuran, dan kefakiran, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Engkau). 

Pada doa ini ada sebuah kenikmatan yang diminta iaitu kesehatan pada "pendengaran". Dari doa ini saya bisa mengambil hikmah bahwa nikmat pendengaran itu sangat besar. Bayangkan kalau 24 jam mendengar suara berdesis, tentu sangat tidak nyaman. 

Doa ini saya baca tidak hanya saat pagi/sore saja melainkan saat tinitus berdesis semakin kuat dan setiap sujud. Saya minta terus kepada Allah sambil merengek. Hal ini saya yakini akan mengangkat penyakit. 


2. Istighfar.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahualayhi wassalam bersabda, “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir). 

Ketika tinitus saya semakin kuat saya coba untuk beristighfar sebanyak-banyaknya. Suatu malam saya pernah mencoba beristighfar ada sebuah rasa seperti penurunan frekuensi berdesis. Penurunan ini benar-benar saya rasakan, khususnya ketika membaca "astagh..." tepatnya pada huruf "agh", ini bukan berarti boleh hanya dibaca " astagh.., astagh.. . Tetap tuntaskan minimal sampai astaghfirullah.


3. Membaca alQuran dan Mendengarkan alQuran

Jumat pagi tanggal 16 Oktober 2020 saya mencoba untuk menamatkan surat alKahfi sekali duduk, kebetulan pagi itu tinitus saya lumayan tinggi. Ketika saya membaca surat alKahfi sekitar 30-an ayat tinitus semakin reda dan frekuensinya berkurang. 


Setidaknya 3 hal tadi saya lakukan di samping olahraga, mengurangi kafein, dan mengurangi makan, alhasil pada minggu sore tanggal 18 Oktober 2020 Allah mengangkat tinitus saya sedikit demi sedikit dan telinga kanan terasa "plong". Saya sangat senang, meski telinga kiri belum plong ketika itu. Kini tanggal 22 Oktober 2020 meski ada tinitus namun sangat kecil frekuensinya. Di sini saya berharap Allah benar-benar mengangkat total penyakit ini. 

Timbulnya penyakit bisa disebabkan oleh banyak hal, misal karena dosa. Bisa jadi selama ini saya tidak memanfaatkan telinga saya dengan benar sehingga Allah kasih seperti itu. Yang terpenting dari peristiwa ini setidaknya saya bisa memperbanyak 3 amalan shalih yang saya sebutkan di atas, mulai dari berdoa, beristighfar dan juga membaca/mendengarkan alQuran. Bisa jadi dengan cara ini Allah menjadikan saya lebih baik ke depannya. 

Saya pun berdoa semoga teman-teman yang belum sembuh dari Tinitus bisa segera sembuh dan Allah angkat penyakitnya. Saya tahu ini berat, namun memutuskan bahwa PENYAKIT TIDAK ADA OBATNYA akan lebih memberatkan. Intinya semua penyakit ada obatnya hanya saja ada yang secara ilmiah belum ditemukan karena keterbatasan kemampuan manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar