Bismillah
Menurut UU No 20 tahun 2003 salah satu jalur pendidikan adalah jalur non formal, jadi sah-sah saja apabila anak mengikuti jalur pendidikan non formal yang pada akhirnya mereka mendapatkan ijazah yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Namun apakah hal itu buruk ? Tentu tidak, menurut beberapa keterangan ijazah paket bisa digunakan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan atau melamar pekerjaan.
Masalah pada pendidikan non formal bukanlah pada ijazah melainkan pada kemampuan yang dimiliki oleh anak. Pada pendidikan formal anak dituntut untuk menguasai berbagai keterampilan baik hardskill maupun softskill, kemudian anak difasilitasi pembelajaran penuh setiap harinya mulai dari pada sampai sore hari. Hal ini berbeda dengan pendidikan non formal, bisa saja anak sama sekali tidak sekolah, tidak memiliki guru privat dan atau tidak diikut sertakan pada Homeschooling maupun PKBM sehingga anak full di bawah kontrol orangtuanya. Lalu bagaimana apabila kondisinya seperti itu ?
1. Kenali bakat dan keinginan anak. Diskusikan dengan anak apa yang menjadi keinginannya. Terkadang anak malu bahkan menyembunyikan hal ini dari orangtuanya, pada anak yang seperti ini amatlah sulit, namun orang tua bisa melihat dari kecendrungan aktivitas anak, kemanakah anak cendrung beraktivitas.
2. Ikutkanlah anak pada kursus-kursus serta sertifikasi. Zaman ini sudah berubah, terkadang sertifikat akan suatu ketrampilan lebih dihargai daripada deretan nilai A pada ijazah. Untuk itu orangtua perlu menyelesaikan tugas seperti pada deskripsi nomor 1, jangan sampai anak berbakat untuk menjadi desainer grafis tetapi malah diikut sertakan kursus AMDAL.
3. Ajarkan anak untuk menghadapi kesulitan di dunia nyata bukan di dunia maya. Usahakan dari bakat dan keinginan anak bisa menghasilkan nafkah baginya apalagi anak adalah seorang laki-laki yang tentu wajib baginya mencari nafkah. Jangan terlalu memanjakan anak dengan hanya memberinya uang melainkan berikan peluang baginya untuk mencari uang. Misal dengan mempromosikan keahlian anak kepada teman-teman orangtua.
4. Terapkanlah Kedispilinan. Salah satu yang hampir tidak ada dalam pendidikan non formal adalah penerapan kedisiplina berbeda halnya dengan pendidikan formal yang memiliki aturan mengikat dengan hukuman yang ketat. Misal telat datang ke sekolah akan dihukum dengan berlari di lapangan sekian putaran. Menerapkan kedisplinan pada pendidikan non formal dapat dilakukan dengan memberikan "reward" dan "punishment". Reward diberikan saat anak menaati aturan dan punishment sebaliknya. Terapkan hal ini pada hal-hal yang mungkin bisa diterapkan, misal pengaturan waktu tidur, komitmen di saat belajar, komitmen di saat menjalankan usaha dan sebagainya.
5. Tanamkan Akidah yang Lurus. Di balik semua itu perlu penanaman akidah yang lurus karena akidah adalah pondasi. Tanpa akidah yang kuat maka kehidupan seseorang mudah menjadi "bejat". Akidah yang lurus diperoleh dari mempelajari agama yang memperkenalkan anak dengan Allah dan rasulNya, dengan begitu dia akan tahu mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang sesat. Hal ini mengingat banyaknya kemaksiatan dan kesesatan yang menyebar di kehidupan kita.
Akhir kata apa pun pendidikan yang ditempuh oleh anak yang terpenting adalah peran orangtua di dalamnya karena sekolah pertama bagi anak adalah orangtuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar