Sabtu, 11 Agustus 2018

MUDAHKANLAH MEREKA UNTUK MASUK SURGA

Bismillah
Masuk surga, siapa sih yang gak pengen ? semua pasti pengen kan ? Tapi masuk surga gak gratis, butuh pengorbanan, butuh penggadaian, ya pengorbanan dengan meninggalkan sedikit kenikmatan dunia seperti menyisihkan sedikit dari penghasilan kita untuk infaq, menyisihkan sedikit dari waktu malam kita untuk beribadah kepada Allah, menyisihkan waktu bengong kita untuk dzikrullah dan sebagainya. 

Banyak amalan yang bisa kita lakukan, namun terdapat amalan yang paling mudah kita lakukan untuk memasuki surga, apa itu ? Berbakti kepada orangtua. 

Berbicara berbakti kepada orangtua, mudah dikatakan namun sulit diamalkan. Kenapa ? karena pertama iman kita lemah dan kedua kadang kita tidak sabar menghadapi mereka apalagi mereka yang memiliki sifat keras, suka memaksa, sulit diajak komunikasi dan sifat-sifat yang menyebalkan bagi kita. Tentunya inilah tantangan untuk masuk surga karena ingat surga itu TIDAK GRATIS. 

Kalau kita melihat orangtua yang kadang memiliki sifat-sifat buruk maka hal tersebut bisa menjadi renungan bagi kita yaitu kita jangan lakukan hal tersebut kepada anak-anak kita, karena apa ? karena bisa jadi anak kita beralih menjadi anak DURHAKA karena sifat dan sikap buruk kita. Banyak anak yang awalnya baik namun akhirnya menjadi suka membentak orangtuanya, berdebat dengan orangtuanya , tidak mempedulikannya , pergaulan bebas dan sebagainya. Bisa jadi seorang anak awalnya baik namun karena kebaikannya tidak pernah kita hargai bahkan kita remehkan jiwanya berontak dan merasa percuma berbuat baik akhirnya dia lebih memilih untuk berbuat buruk. Hal ini pernah dicontohkan dalam sebuah serial kisah nyata di sebuah stasiun TV, ada seorang siswi yang awalnya baik, rajin belajar namun karena nilai akademiknya dianggap kurang bagus oleh orangtuanya (padahal nilainya sekitar 80-90 tidak 100) akhirnya dia merasa jenuh , kejenuhnannya dengan sikap orangtuanya membuatnya bergabung dengan geng motor, alhasil hancurlah hidupnya. Kejadian lainnya yang pernah saya temui sewaktu saya SMA bahwa ada siswa yang baik, rajin belajar, hanya saja sering remedial, akhirnya orangtuanya memarahinya dan mendiamkannya selama beberapa hari, padahal siswa tersebut sudah berusaha, tapi ya memang belum rezekinya bagaimana lagi. Alhasil siswa tersebut guna mencegah amukan orangtuanya mulai mencontek satu nomor, dua nomor, supaya tidak remedial. Kebiasaan mencontek tersebut terus dilakukannya supaya tidak remedial. Suatu ketika temannya menyindirnya, " dunia mau kiamat ya, gua kira lu orangnya baik, kok sekarang malah kebalik jadi suka nyontek". Gak hanya itu saja banyak kisah lain. 

Kadang kita sebagai orangtua ingin anak kita beruntung dalam "masalah dunia", tapi kita lupa ada kehidupan yang terbaik setelah dunia yaitu "akhirat" sehingga kadang kita malah menyulitkan mereka masuk surga.Maka itu kita sebagai orangtua harus menambah ilmu agama kita dan berpikir rasional bahwasanya masalah-masalah dunia itu spele dan masalah rezeki kalau memang sudah rezeki anak kita goyang-goyang kaki pun dapat ratusan juta bisa. Jangan sampai saat anak kita sudah meniti karir lalu ia membelikan kita gorengan sebesar dua biji lalu kita remehkan, "Yah cuman dua biji, makanya gajinya naikin dong, liat si Anu yang lulus bareng kamu dia sekarang kerja di perkebunan buah Zaqqum, satu bulannya dapat sekian dollar Zimbabwe, apa kamu gak mau seperti si Anu ?", atau saat anak kita IPK pas-pasan, " Kamu mau kerja dimana ? IPK segitu mah sulit", atau saat nilai anak kita kecil, "Kamu udah diikutin 3 bimbel nilaimu masih segitu gitu aja, liat tu si Kecubung gak bimbel tapi bisa tu nilainya 100 semua, kamu ada yang salah strateginya, makanya kalau guru nerangin perhatiin terus, catet, kalau malam tidur jam 10 bangun jam 3 lalu belajar lagi" dan perkataan-perkataan lainnya. Coba kita ganti dengan yang lebih baik, misal saat gaji anak kita masih rendah, " Ya disyukuri saja insya Allah kalau kamu tekuni akan ada juga limpahan rizkiNya:, atau saat IPK rendah, " Ya nak saran Abbi kalau memang IPK mu segini coba deh ngelamar ke perusahaan paman di sudut kiri kota Mekkah, kayaknya ada lowongan, tapi kalau kamu kurang minat ya ga apa-apa, asalkan kamu tetap semangat mencari nafkah yang halal", atau saat nilai rendah, " Ya tidak apa apa nak nanti ditingkatkan lagi yang penting sudah berusaha, dan syukuri nikmat itu nanti nilainya nambah, insya Allah".  Insya Allah kalau kita mendidik dengan lembah lembut dan membuatnya mudah masuk ke "surga" sekalipun di tengah perjalanan hidupnya dia membandel, tapi biasanya akan balik juga ke jalan Allah. Hal ini pernah diceritakan oleh almarhum artis hijrah yang dulunya bandel hingga kabur dari rumah orangtuanya namun orangtuanya tetap lemah lembut dan yakin bahwa dia anak yang baik, alhasil artis hijrah tersebut mati dalam keadaan istikomah dalam hijrahnya. 

Akhir kata jangan hanya mudahkan anak dalam urusan dunia namun menggadaikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi karena keluarga bukan hanya untuk sehidup semati namun untuk sehidup sesurga. 

Semoga artikel ini bermanfaat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar