Kamis, 19 April 2018

PERSEPSIKU TENTANG PENDIDIKAN ANAK


Bismillah
Anak, anugerah yang tak terkira dari Allah Subhanahu wa Taala. Kedatangannya dinanti-nati sejak awal pernikahan. Sejuta harapan terlukiskan untuk mewujudkan seperti apa anak nantinya. Perencanaan biaya tak tanggung-tanggung, hingga investasi bodong dan ribawi pun diikutsertakan dengan alasan “masa depan anak”.

Anak, ya aku belum punya anak apalagi istri. Tapi aku adalah pengajar dari beberapa anak yang terdiri dari beragam kelas umur dan tingkat pendidikan. Aku pernah mengajar anak dari mulai SD hingga tingkat S1, semua memiliki karakter dan kemampuan berbeda namun memiliki status yang sama yaitu “anak dari pasangan orangtua”

Pengalamanku mengajar setidaknya memberikan gambaran cara mendidik anak, meskipun aku miskin ilmu mengenai parenting namun aku yakin pengalaman adalah bagian dari ilmu karena pengalaman adalah ayat-ayat kauniyah Allah Subhanahu wa Taala yang baiknya diperhatikan oleh insan yang memiliki akal dan hati. Meski begitu semiskin-miskinnya aku, aku juga mempelajari ilmu parenting dari berbagai sumber baik sumber elektronik maupun cetak. Aku mengikuti ceramah-ceramah di Youtube mengenai parenting seperti dari Ustadz Zaenal Abidin, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Subhan Bawazier, dan Elly Risman. Dari sumber-sumber itulah aku mengambil banyak ilmu yang akan kujadikan lukisan dalam mewujudkan anak seperti apa nantinya.

Lukisanku tidak berpola sebagaimana lukisan-lukisan lainnya. Lukisanku hanya lukisan abstrak yang berbunyi “ Kesuksesan anak adalah ketika ia bisa berjalan di atas rencana-rencananya apalagi bisa menggapai mimpi-mimpi indah di setiap rencananya, orangtua hanya sebagai polisi yang menindak apabila rencana-rencana dan mimpi-mimpi tersebut bertentangan dengan alQuran, asSunnah dan pemahaman Sahabat Nabi radhiyallaahuanhum”. Itulah lukisanku yang mungkin terkesan “terlalu membebaskan” anak, tapi itu hanya “terkesan”, yang kadang kesan itu bisa menyebabkan kesandung kalau terlalu dipikirkan.

Setiap anak memiliki rencana dan mimpi, itu anugerah dan kebesaran Allah, karena dengan rencana dan mimpi inilah mereka bisa bahagia dan bersemangat. Hanya saja rencana dan mimpi ada yang kecil, sedang dan besar. Namun dalam mendefinisikan kecil, sedang dan besarnya rencana dan mimpi sangat sulit kecuali dalam masalah akhirat karena Nabi Alayhi shalatu wassalam telah menjelaskan bahwa untuk memohon surga mohonlah surga Firdaus, jelas surga Firdaus kalau untuk akhirat yang merupakan mimpi besar yang harus kutanamkan pada anak. Jangan sampai anak hanya bermimpi untuk masuk Surga paling rendah apalagi masuk neraka meskipun sedetik saja. Tetapi untuk urusan dunia aku rasa semuanya relatif. Semua apa yang jadi rencana dan mimpi anak adalah sesuatu yang besar bukan kecil, meskipun di mata orang itu kecil.

Aku tidak akan marah ketika anakku memiliki mimpi yang “kecil” di mata orang, karena bisa jadi mimpinya yang kecil dijalaninya dengan penuh semangat, penuh semangat inilah yang menghantarkan pada produktivitas kerja yang baik, semakin produktif kerja maka hasilnya akan semakin banyak. Misal anakku hanya ingin menjadi “tukang balon”, aku dukung dia, aku jelaskan jenis-jenis balon, dan aku paparkan dalam kondisi apa boleh dia menjual balon, misal kamu boleh jual balon yang tidak ada gambar makhluk hidup, kamu boleh jual balon bukan untuk acara bidah atau kekufuran, kamu boleh jual balon tapi kalau ada yang ngutang jangan dikasih tambahan nominalnya karena itu riba dan sebagainya. Lalu aku motivasi propsek jadi tukang balon, dalam setahun bagaimana, dalam lima tahun bagaimana dan dalam sepuluh tahun bagaimana. Setelah itu aku biarkan dia menjalaninya, apabila memang dia berniat menjadi “tukang balon” maka dalam 10 tahun insya Allah sudah bisa menerbangkan ribuan balon bahkan balon udara yang untungnya tidak bisa dihitung pakai bulu hidung.

Lalu apakah sudah terbukti sukses dengan metode seperti itu ? Kalau dilihat dari data primer belum karena aku belum punya anak, kalau dilihat dari data sekunder sudah, contoh pemilik Sinar Mas yang awalnya hanya menjual gula dan biskuit, ya gula dan biskuit kalau orang sekarang mencoba jualan akan dipandang hina. Tapi bagiku tadi bukan masalah gula dan biskuitnya tetapi bahagia dan semangatnya.

Akhir kata banyak sekali orangtua yang memiliki mimpi besar untuk anak-anaknya, mereka ingin anaknya jadi pejabat, doktor, dokter, profesor, direktur dan sebagainya hingga mereka mengelurakan banyak biaya untuknya, namun pahamilah mimpi besar tanpa diiringi semangat yang besar akan menjadi khayalan belaka. Biarkanlah anak menampakkan wajah aslinya bukan topengnya karena hidup dalam topeng menyebabkan orang mengenal sebatas topengnya belaka bukan wajahnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar