Bismillah
Anak, anugerah yang tak terkira dari Allah Subhanahu wa Taala.
Kedatangannya dinanti-nati sejak awal pernikahan. Sejuta harapan terlukiskan
untuk mewujudkan seperti apa anak nantinya. Perencanaan biaya tak
tanggung-tanggung, hingga investasi bodong dan ribawi pun diikutsertakan dengan
alasan “masa depan anak”.
Anak, ya aku belum punya anak apalagi istri. Tapi aku adalah
pengajar dari beberapa anak yang terdiri dari beragam kelas umur dan tingkat
pendidikan. Aku pernah mengajar anak dari mulai SD hingga tingkat S1, semua memiliki
karakter dan kemampuan berbeda namun memiliki status yang sama yaitu “anak dari
pasangan orangtua”
Pengalamanku mengajar setidaknya memberikan gambaran cara
mendidik anak, meskipun aku miskin ilmu mengenai parenting namun aku yakin
pengalaman adalah bagian dari ilmu karena pengalaman adalah ayat-ayat kauniyah
Allah Subhanahu wa Taala yang baiknya diperhatikan oleh insan yang memiliki
akal dan hati. Meski begitu semiskin-miskinnya aku, aku juga mempelajari ilmu
parenting dari berbagai sumber baik sumber elektronik maupun cetak. Aku
mengikuti ceramah-ceramah di Youtube mengenai parenting seperti dari Ustadz
Zaenal Abidin, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Subhan Bawazier, dan Elly
Risman. Dari sumber-sumber itulah aku mengambil banyak ilmu yang akan kujadikan
lukisan dalam mewujudkan anak seperti apa nantinya.
Lukisanku tidak berpola sebagaimana lukisan-lukisan lainnya.
Lukisanku hanya lukisan abstrak yang berbunyi “ Kesuksesan anak adalah ketika
ia bisa berjalan di atas rencana-rencananya apalagi bisa menggapai mimpi-mimpi
indah di setiap rencananya, orangtua hanya sebagai polisi yang menindak apabila
rencana-rencana dan mimpi-mimpi tersebut bertentangan dengan alQuran, asSunnah
dan pemahaman Sahabat Nabi radhiyallaahuanhum”. Itulah lukisanku yang mungkin
terkesan “terlalu membebaskan” anak, tapi itu hanya “terkesan”, yang kadang
kesan itu bisa menyebabkan kesandung kalau terlalu dipikirkan.
Setiap anak memiliki rencana dan mimpi, itu anugerah dan
kebesaran Allah, karena dengan rencana dan mimpi inilah mereka bisa bahagia dan
bersemangat. Hanya saja rencana dan mimpi ada yang kecil, sedang dan besar.
Namun dalam mendefinisikan kecil, sedang dan besarnya rencana dan mimpi sangat
sulit kecuali dalam masalah akhirat karena Nabi Alayhi shalatu wassalam telah menjelaskan
bahwa untuk memohon surga mohonlah surga Firdaus, jelas surga Firdaus kalau
untuk akhirat yang merupakan mimpi besar yang harus kutanamkan pada anak.
Jangan sampai anak hanya bermimpi untuk masuk Surga paling rendah apalagi masuk
neraka meskipun sedetik saja. Tetapi untuk urusan dunia aku rasa semuanya
relatif. Semua apa yang jadi rencana dan mimpi anak adalah sesuatu yang besar
bukan kecil, meskipun di mata orang itu kecil.
Aku tidak akan marah ketika anakku memiliki mimpi yang “kecil”
di mata orang, karena bisa jadi mimpinya yang kecil dijalaninya dengan penuh
semangat, penuh semangat inilah yang menghantarkan pada produktivitas kerja
yang baik, semakin produktif kerja maka hasilnya akan semakin banyak. Misal
anakku hanya ingin menjadi “tukang balon”, aku dukung dia, aku jelaskan
jenis-jenis balon, dan aku paparkan dalam kondisi apa boleh dia menjual balon, misal
kamu boleh jual balon yang tidak ada gambar makhluk hidup, kamu boleh jual
balon bukan untuk acara bidah atau kekufuran, kamu boleh jual balon tapi kalau
ada yang ngutang jangan dikasih tambahan nominalnya karena itu riba dan
sebagainya. Lalu aku motivasi propsek jadi tukang balon, dalam setahun
bagaimana, dalam lima tahun bagaimana dan dalam sepuluh tahun bagaimana.
Setelah itu aku biarkan dia menjalaninya, apabila memang dia berniat menjadi “tukang
balon” maka dalam 10 tahun insya Allah sudah bisa menerbangkan ribuan balon
bahkan balon udara yang untungnya tidak bisa dihitung pakai bulu hidung.
Lalu apakah sudah terbukti sukses dengan metode seperti itu ?
Kalau dilihat dari data primer belum karena aku belum punya anak, kalau dilihat
dari data sekunder sudah, contoh pemilik Sinar Mas yang awalnya hanya menjual gula
dan biskuit, ya gula dan biskuit kalau orang sekarang mencoba jualan akan
dipandang hina. Tapi bagiku tadi bukan masalah gula dan biskuitnya tetapi
bahagia dan semangatnya.
Akhir kata banyak sekali orangtua yang memiliki mimpi besar
untuk anak-anaknya, mereka ingin anaknya jadi pejabat, doktor, dokter,
profesor, direktur dan sebagainya hingga mereka mengelurakan banyak biaya
untuknya, namun pahamilah mimpi besar tanpa diiringi semangat yang besar akan
menjadi khayalan belaka. Biarkanlah anak menampakkan wajah aslinya bukan
topengnya karena hidup dalam topeng menyebabkan orang mengenal sebatas
topengnya belaka bukan wajahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar